cok ace tengah

 

 

Sentralbali.com –  Dua puluh delapan warga Negara Asing (WNA) berkewarganegaraan Cina dan Taiwan, bersama 4 Warga Negara Indonesia (WNI) diamankan petugas gabungan Mabes Polri dan kepolisian Tiongkok. Penggerebekan itu dilakukan di sebuah villa mewah beralamat Jalan Puri Bendesa, Banjar Mumbul, Kuta Selatan, pada hari Sabtu (29/7/2017) sekitar pukul 14.30 wita.

Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati ‘Cok Ace’ di Sektretariat Bali Tourism Board (BTB), Senin (31/7/2017) mengatakan bahwa Bali kecolongan dengan keberadaan puluhan WNA yang tergabung dalam jaringan kejahatan siber.

“Sebagaimana kita lihat kejadian kemarin, ada cyber crime internasional dan itu kan kecolongan sekali. Ada villa tamunya berbulan – bulan sampai tidak tahu” ungkapnya.

Cok Ace meminta kedepan seluruh pengelola akomodasi kepariwisataan di Bali lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Jika melihat gerak-gerik tamu yang mencurigakan, ia mengimbau segera berkoordinasi dengan pihak keamanan

"Artinya mekanisme sudah jelas sekali, bahwa hotel atau akomodasi dimana wisatawan itu menginap kan reguler atau berkala mengadakan laporan selama 24 jam. Minimal yang paling mendasar itu harus dilakukan. Disamping tentu keamanan lain misalnya CCTV (Closed Circuit Television), kegiatan-kegiatan yang diluar kelaziman misalnya menutup diri, mengunci pintu, tidak pernah keluar, ini kan harusnya ada kepedulian," ungkapnya. 

Tidak cukup pengelola akomodasi wisata dan kepolisian, Cok Ace mengatakan, seluruh elemen masyarakat berkewajiban menjaga stabilitas keamanan. Kepedulian masyarakat diyakini berkontribusi terhadap citra Bali yang selama ini menjadi episentrum kepariwisataan Indonesia.

"Jadi harapan kami Bali yang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan, predikat-predikat yang sangat terpuji, jangan sampai rusak karena hal-hal kecil seperti ini
. Tidak saja kepada aparat, tetapi yang paling penting lagi masyarakat, pemilik villa terutama yang terpencil-terpencil, tolong lebih diberikan perhatian, tolong lebih sensitif, manakala menangkap hal-hal yang bisa terjadi ditempat mereka bekerja semua," pintanya

Mantan Bupati Gianyar periode 2008-2013 menilai k
ejadian itu menjadi peringatan bagi pengelola akomodasi wisata di Bali untuk memberlakukan standarisasi keamanan. Khusus di PHRI, diakui pihaknya sudah menerapkan proses sertifikasi standar keamanan dan keselamatan hotel di Pulau Dewata. Sertifikasi itu dibagi kedalam tiga kategori, meliputi Diamond,Gold,danSilver.

"Kita mulai sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) ya memberlakukan sertifikasi ini. Sejak tahun 2013," paparnya. 

Sejauh ini sudah lebih dari 110 hotel di Bali mengantongi sertifikat standar keamanan dan keselamatan hotel. Indikator pemberian sertifikasi meliputi 200 poin penilaian, diantaranya tentang keamanan, kenyamanan, dan keselamatan wisatawan, serta kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Sertifikat keamanan dan keselamatan hotel itu menurut Cok Ace menjadi salah satu syarat yang diminta ketika menerima kunjungan kenegaraan. 

"Seperti kunjungan Raja Arab Saudi, Raja Salman,
security-nya mengisyaratkan hotel penerima harus memiliki sertifikat. Itu sangat dilihat sekali," pungkasnya.

 

SmartNews.Com