Ngeri!! Kok Evaluasi Akhir Semudah Membalikkan Telepak Tangan

edit

 

 

Sentralbali.com-KONI Bali telah mewujudkan test kebugaran hingga tahap ke-4, bahkan hasilnya pun telah dipublikasikan, dari rentetan itu dua atlet terdepak, masing-masing satu orang dari cabang tinju dan gulat. Hingga keputusan akhir memberangkatkan 360 atlet sebagai duta olahraga Bali menuju Tanah Legenda (Jawa Barat).

Sepanjang TC Sentralisasi kurang lebih sebulan setengah, KONI Bali juga menggelar evaluasi setiap Jumat malam, dan terakhir berlangsung Jumat (9/9/2016) di Hotel Batukaru, hadir saat itu Ketua Umum KONI Bali, I Ketut Suwandi, didampingi Wakil Ketua I Gusti Ngurah Oka Darmawan, Komisi Disiplin Ardy Ganggas dan tak kalah pentingnya kehadiran Litbang KONI Bali, Anak Agung Gde Ardana.

Pertama yang menjadi kunci pembukaan evaluasi yang dilakukan oleh Wakil Ketua KONI Bali Oka Darmawan dihadiri tidak semua pelatih itu yakni nanti di Jawa Barat tidak ada lagi permasalahan yang berkaitan non teknis, seperti transportasi menuju Bandara Ngurah Rai dan dari Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara Bandung menuju tempat menginap para atlet dan biaya yang dikeluarkan agar diatasi lebih dahulu oleh pelatih, nanti diganti oleh KONI Bali. Lagi-lagi KONI Bali memberi beban tambahan kepada para pelatih yang harusnya sudah konsentrasi mendampingi atlet bertanding.

Memang secara riil para pelatih manggut-manggut saja ketika disampaikan perihal talang menalang soal dana transportasi tersebut. Namun demikian keluhan saat itu juga dilontarkan oleh pelatih Binaraga I Nengah Wijana perlunya tabung oksigen, Sugiarto pelatih futsal melontarkan tentang kekurangan akomodasi dan Panjat Tebing disampaikan Pelatih Suhardi Eka Prasetya, soal tukang pijat, serta biliar yang penginapannya belum beres.

Menanggapi hal itu Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi, agar melakukan koordinasi dengan tim pelatda PON Bali yang sudah berada di Jawa Barat, yakni Maryoto Subekti, Yamadiputra dan Ida Bagus Dipta. “Silahkan koordinasi dengan mereka terkait permasalahan saat berada di Jawa Barat. Mengingat mereka sudah stand by untuk mengatasi persoalan yang terjadi ketika para atlet berada di Jawa Barat,” kata Suwandi.

Dari rentetan permasalahan di atas yang patut dipertanyakan, apakah benar anggaran KONI Bali sudah minus untuk membiayai keberangkatan, sehingga harus mencari ‘Dana Talangan’ yang justru membebani para pelatih.

Bahkan yang paling miris, ketika Litbang KONI Bali Anak Agung Gde Ardana membacakan satu per satu atlet yang cidera, seperti dari balap sepeda, criket, karate dan basball, justru dengan entengnya para pelatih menyatakan sudah siap bertanding. Persoalannya semudah itukah proses pemulihan cidera atlet, kok tidak ada uji riil atlet yang bersangkutan. Bukankah KONI Bali selama ini menggembar-gemborkan uji kualitas atlet dengan peralatan modern yang kabarnya hasilnya tidak bisa terbantahkan. Lantas kenapa diujung evaluasi justru segampang membalikkan telapak tangan. Cukup dengan bahasa sudah siap bertanding, padahal belum dicek kebenaran apakah atlet itu sudah pulih dari cidera.

Kemudian siapa yang menjadi bemper jika para atlet bersangkutan benar-benar cidera tapi dipaksakan untuk ‘duel’ berebut medali PON XIX/2016 Jawa Barat? (Supriyono, Pimpred Sentralbali.com)

SmartNews.Com